Pelatihan Dasar Metakognitif

Maaf, sudah lama saya tidak mengisi blog ini dikarenakan kesibukkan yang berjibun serta proyek Mekofun yang saya ikuti. Proyek pertama dari Mekofun ini sudah berjalan sukses dan saya mendapatkan hasil yang memuaskan dari peserta saya, yang buta huruf dan tidak terbiasa dengan semua hal yang berbau belajar. Hal ini merupakan satu hal yang sangat menyulitkan bagi saya. Bagaimana mungkin mereka bisa mengerti saya? Bahasa Jerman mereka sungguh sangat tidak dimengerti. Sementara mereka juga frustasi untuk mengerti saya.

Saya sempat menceritakan bahwa berpikir ala metakognitif sebenarnya sering kita lakukan tanpa kita sadari. Metakognitif artinya kita berusaha memperjelas jalan pikiran kita. Misalnya, jika kita lupa sesuatu, misalnya kunci. Otak kita mulai berpikir keras, dimanakah letak gerangan kunci tersebut? Biasanya kita akan berusaha untuk merekonstruksi atau merewind ingatan kita untuk beberapa waktu yang lalu. Nah, sambil kita mengatur rekonstruksi waktu dan gambar di otak kita, biasanya kita juga tanpa sadar berbicara dengan diri sendiri. „Biasanya saya menaruh kunci tersebut di atas meja ini. Hmm, tapi kok tidak ada. Oh ya, sebelum saya ke arah meja, saya saat itu sedang merapikan belanjaan, hmm tunggu dulu artinya saya dari arah bawah dekat mobil. Ok, coba saya cari dari arah saya turun dari mobil. Saya membuka pintu,  dan seterusnya…“ Jadi pola pikir metakognitif sering kita lakukan, tanpa kita mengetahuinya jika kita sedang berpikir sistem ini.

Intinya, sebagai guru di kelas tersebut saya diajarkan mengenai dasar2 metakognitif yang sederhana dan bisa dipergunakan dan segera diimplikasikan bagi para peserta, yang sering dianggap golongan rendah/bodoh. Jadi setiap kali saya melatih mereka untuk mengeluarkan pendapat mereka, jika melihat sebuah gambar atau menceritakan apa saja yang mereka lihat dan menjelaskannya dengan kata-kata mereka yang sederhana.

Kami berlatih mengenai step by step berpikir. Bagi kita yang sudah mencicipi bangku kuliah, berpikir metakognitif sudah menjadi santapan kita sehari-hari. Jadi bagi kita sudah tidak sulit lagi. Lain halnya dengan mereka yang belum bisa membaca serta menulis. Mereka mengalami kesulitan untuk mengatur pola berpikir mereka. Di sini, kami berlatih menggunakan pola pikir lampu lalu lintas yang berwarna merah, kuning dan hijau. Sehingga mereka bisa membedakan langkah-langkah mana yang harus mereka kerjakan, jika mereka menghadapi sebuah soal atau tes.

Simbol merah artinya stop. Di sini mereka harus memperhatikan baik-baik soal/tes yang mereka hadapi. Apakah bunyi perintah tes tersebut? Apakah sudah disiapkan jawaban yang benar? Apa yang harus saya lakukan? Menyilang jawaban yang benar (Multiple Choice)? Jika saya tidak mengerti, saya coba perhatikan baik-baik sekali lagi tes tersebut. Jika masih tidak mengerti, maka bisa saya diskusikan dengan orang lain atau guru.

Simbol kuning artinya play, jika saya sudah mengerti maka saya boleh memulai memecahkan pertanyaan tersebut.

Simbol hijau artinya kontrol. Ketika saya menyelesaikan pertanyaan tersebut, otak saya tetap berpikir apakah jawaban yang saya berikan benar. Jika saya tidak yakin, maka saya kembali ke simbol warna merah. Jika saya merasa yakin, artinya jawaban saya itu merupakan jawaban benar, sesuai dengan kapasitas ilmu yang saya miliki.

Untuk sistem metakognitif ini, banyak faktor-faktor luar juga yang berpengaruh. Berbeda dengan sistem kognitif yang sudah menyediakan jawaban benar dan salahnya. Namun di sini, kita harus melihat situasi dan kondisi para peserta kursus, latar belakang mereka, masalah dan gaya belajar mereka. Pujian dan pemilihan kata-kata support, sangat memotivasi kerja mereka. Walau jawaban mereka salah, tapi bukan itu tujuan pembelajaran ini, melainkan proses pemikiran mereka yang harus dilatih. Jadi apapun yang mereka lakukan, saya harus tetap mensuport mereka dengan kata-kata pujian: „Bagus sekali, kamu sudah melakukan proses lampu lalu lintas ini!“

Bagi kita yang sudah mengenyam bangku sekolah, mengerti benar mengenai proses ini, baik disadari maupun tidak disadari. Kadang-kadang, kita sering „menuduh“: „Duh, soal mudah begini kok ngga bisa?“ Namun metakognitif merupakan proses yang bisa dilatih. Terutama untuk orang-orang yang buta huruf, mereka tidak terbiasa menghadapi proses yang rumit. Biasanya hidup mereka pun diaturh oleh orang lain, sehingga untuk apa mereka mengandalkan isi otak mereka sendiri? Hal ini sangat rumit untuk dijelaskan. Namun dilihat dari hasil tes yang terakhir, ternyata ada bentuk kemajuan sejak pelatihan ini dilakukan.

Schreibe einen Kommentar

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden / Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden / Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden / Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden / Ändern )

Verbinde mit %s